
Transformasi strategi digital marketing bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar mampu bertahan sekaligus bersaing di tengah perubahan lanskap ekonomi digital.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Dr. Keni Kaniawati, SE., MSi dalam Orasi Ilmiah Pengukuhannya sebagai Guru Besar Universitas Widyatama, Kamis (16/10), yang menyoroti hasil penelitian dan pengabdian masyarakat (PKM) terkait peran digital marketing sebagai akselerator daya saing dan keberlanjutan UMKM di Indonesia.
Dalam paparannya, Guru Besar Universitas Widyatama itu menjelaskan bahwa UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional, dengan kontribusi lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja.
Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan ekonomi digital, sebagian besar UMKM masih menghadapi tantangan klasik seperti keterbatasan modal, literasi digital, dan akses pasar.
“Transformasi strategi digital marketing bukan sekadar perubahan teknis, tetapi revolusi paradigma. Dengan kemampuan digital yang kuat, UMKM bisa memperluas pasar, meningkatkan efisiensi, dan membangun keberlanjutan jangka panjang,” ujarnya dalam orasi pengukuhannya yang dipimpin Rektor Universitas Widyatama Prof. Dr. Dadang Suganda di Aula Utama Universitas Widyatama, Bandung.
Ia menjelaskan, berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, hingga akhir 2023 terdapat sekitar 24 juata hingga 25,5 juta UMKM yang telah masuk dalam ekosistem digital, atau sekitar 32 persen dari total 64 juta unit usaha. Pemerintah menargetkan 30 juta UMKM terdigitalisasi pada 2024.

Transformasi digital, lanjutnya, tidak hanya sebatas penggunaan media sosial atau e-commerce, tetapi melibatkan perubahan menyeluruh pada aspek manusia, proses, teknologi, data, dan strategi bisnis.
Pendekatan ini memungkinkan UMKM membangun interaksi yang lebih personal dengan pelanggan sekaligus meningkatkan visibilitas merek di pasar digital.
Prof. Keni Kaniawati yang juga menjadi guru besar wanita pertama pada universitas Widyatama, juga menekankan pentingnya kolaborasi antarapemerintah, akademisi, dan pelaku usahadalam mempercepat adopsi teknologi digital.


Ia mencontohkan berbagai kegiatan pendampingan dan pelatihan digital marketing kepada UMKM binaan, seperti usaha sepatu di Kabupaten Bandung Barat, produk makanan ringan di Sumedang, hingga padi organik di Cikurubuk.
“Program seperti Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI), PaDi UMKM, dan Digital Talent Scholarship menjadi bukti nyata sinergi pemerintah dalam meningkatkan literasi digital pelaku usaha,” jelasnya.
Selain meningkatkan akses pasar dan efisiensi biaya, digital marketing juga membuka peluang besar bagi inovasi produk, termasuk pengembangan produk ramah lingkungan dan berbasis nilai lokal yang kini diminati pasar ekspor.
Dalam bagian penutup orasinya yang juga dihadiri Ketua Pengurus Yayasan Widyatama Roeshartono, serta sejumlah undangan, Prof. Keni juga mengajak sivitas akademika dan para pemangku kepentingan untuk menjadikan kampus sebagai agen perubahan (impact university).
Sivitas akademika Universitas Widyatama jangan hanya berperan dalam riset dan pendidikan saja, tetapi juga turut menciptakan dampak sosial-ekonomi nyata di masyarakat.
“Transformasi digital UMKM bukan sekadar jargon, tetapi langkah konkret untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional,” pungkasnya. ***
Recent Comments